DAMPAK MEDIA (TERUTAMA TELEVISI) BAGI ANAK

Standard

Kita ketahui bahwa anak dapat menirukan karakter dari sebuah acara TV atau film, menyanyikan sebuah iklan, atau memberikan contoh-contoh lain yang mereka pelajari dari media. Yang menyedihkan, contoh-contoh itu termasuk menyebutkan merk minuman beralkohol yang terkenal, menunjukkan gaya yang sexy, berkelahi pura-pura. Mudah sekali bagi anak-anak karena mereka tinggal memasukkan video ke dalam video player, buka majalah, klik on pda Website, atau menonton TV untuk mendapatkan pengalaman dari semua pesan-pesan yang muncul, dan ini adalah kenyataan!

Media menawarkan hiburan, budaya, erita, olah raga dan pendidikan. Mereka menjadi bagian yang penting dalam kehidupan dan banyak yang dapat diajarkan. Masalahnya banyak yang diajarkan itu mungkin sesuatu yang tidak ingin dipelajari oleh anak kita.

Kadang-kadang kita dapat melihat dampak dari sebuah media secara langsung, seperti ketika seorang anak menonton jagoannya berkelahi dan kemudian menirukan ketika sedang bermain. Tetapi kebanyakan dampak itu datang secara tidak langsung atau tidak nyata. Hal itu terjadi secara perlahan, ketika anak mendengar dan melihat pesan-pesan tertentu berulang kali, seperti:
• Berkelahi dan kekerasan lainnya merupakan jalan untuk mengatasi konflik
• Rokok dan alkohol diperlihatkan sebagai sesuatu yang keren dan menarik perhatian, bukan sesuatu yang tidak sehat dan mematikan
• Perilaku seksual tidak mempunyai akibat yang buruk, seperti tertular penyakit atau kehamilan yang tidak diinginkan

Apapun bentuk dari sebuah media (iklan, film, games komputer, video musik), pesan yang diberikan bisa bersifat baik atau buruk bagi anak-anak. Seperti kita membatasi beberapa jenis makanan yang tidak sehat dalam diet anak kita, maka kita juga harus bisa membatasi pesan-pesan yang diterima dari suatu media (media diet).

Orangtua perlu membuat batasan dan secara aktif terlihat dalam acara TV yang ditonton, permainan komputer, masalah dan bentuk media lain yang digunakan oleh anak. Cara ini merupakan salah satu langkah yang dapat membantu menjadikan media memiliki peran yang positif dalam kehidupan seorang anak. Karena media itu banyak ada disekitar kita dan tidak dapat selalu dihindarkan, maka salah satu cara penyaringannya adalah menumbuhkan keterampilan akan untuk mempertanyakan, menganalisa dan mengevaluasi pesan-pesan media yang didapatkannya dan itu disebut dengan Media Literasi.

Fakta tentang pola menonton TV pada anak berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh YKAI pada tahun 2002 ditemukan bahwa:
- Jumlah jam menonton TV pada anak semakin hari semakin meningkat mencapai jumlah 30 – 35 jam perminggu dan itu sudah lebih banyak dari jumlah waktu yang mereka habiskan di sekolah untuk belajar.
- Jenis tontonan yang disukai anak ternyata lebih banyak pada acara-acara yang sebetulnya tidak ditujukan untuk mereka.
- Saat menonton yang sering dilakukan anak merupakan saat-saat yang kurang tepat.

Hasil penelitian yang lain tentang dampak TV pada anak juga menunjukkan bahwa:
- TV mempengaruhi cara anak bermain, mempersepsi dunia, bagaimana anak bertingkah. Anak yang senang menghabiskan waktunya untuk menonton televisi seringkali mengalami kesulitan untuk menikmati kegiatan bermain di luar ruang. Pajanan televisi berupa acara kriminalitas yang berlebihan juga dapat membuat anak memiliki persepsi bahwa dunia sekelilingnya itu adalah tempat yang tidak aman.
- Kekerasan di TV mempengaruhi sikap dan perilaku anak dan remaja, mereka dapat melakukan kekerasan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
- Namun selain itu juga bisa memberikan dampak positif, seperti melalui pesan-pesan prososial, menambah ilmu pengetahuan.
- Semakin lama waktu yang dipergunakan untuk menonton maka peluang bagi dampaknya itu berpengaruh juga semakin besar.
- Semakin sering dibicarakan dan dipikirkan apa yang dilihat anak di TV, semakin sedikit dampak yang muncul.
- Mempengaruhi kesehatan anak, seperti kegemukan, ketidak bugaran atau perubahan postur tulang

Dari interaksi yang intensif anak dengan televisi dampak jangka pendek yang dapat langsung dirasakan anak adalah adanya perubahan waktu yang dipergunakan oleh anak untuk menonton TV dan melakukan kegiatan lainyya.

Sedangkan untuk dampak jangka panjangnya adalah adanya gangguan dari struktur otak anak, yang simptomnya baru ditemui pada anak-anak di usia masuk sekolah, mereka menjadi mengalami kesulitan berkonsentrasi, kemampuan atensi yang rendah dll.

Kebiasaan mengudap makanan selama menonton televisi apabila tidak dikendalikan bisa menimbulkan kegemukan. Posisi duduk yang kurang nyaman ketika sedang menonton televisi dalam waktu yang cukup lama dapat mempengaruhi bentuk postur tubuh anak.
Tontonan yang menggambarkan gaya hidup hedonisme, sikap perlawanan terhadap figur otoritas, peran-peran stereotipi dari pria dan wanita yang sempit juga mempengaruhi anak di dalam kehidupannya sehari-hari.

MEKANISME DAMPAK TELEVISI PADA ANAK:

Anak yang sering mendapatkan eksposure berbagai ragam acara televisi maka cara berpikirnya, cara bersikap, cara bertingkahlaku dll akan terpengaruh, pengaruh itu bisa berkaitan pada fisiknya, gaya hidupnya, sikap, dan nilai-nilai yang dianutnya. Namun pengaruh itu sangat ditentukan oleh usia, jenis kelamin, lingkungan sekitar, tingkat kecerdasannya, tipe kepribadiannya dan juga waktu yang digunakannya.

PERKEMBANGAN ANAK DALAM MENONTON TELEVISI

Dalam menonton televisi anak yang berusia 6 – 8 tahun mempunyai cara berpikir dan pemahaman yang berbeda dengan anak usia 9 – 14, hal ini dapat terlihat dari:
• Perhatian terhadap TV yang semakin meningkat
• Bantuan secara audio membuat anak semakin paham tentang isi acara
• Pemahaman anak terhadap isi acara tertentu meningkat
• Kesadaran akan hubungan antar gambar meningkat
• Menyukai program beralur dan berlanjut
• Pemahaman akan meningkat jika diikuti oleh gambar-gamber yang penting dan menarik
• Perhatian terhadap iklan masih tinggi
• Mulai bisa membedakan antara iklan dan acara TV
• Masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap iklan.

Pada anak usia 9 – 14 tahun cara berpikir dan pemahamannya dalam menonton TV adalah:
• Minat terhadap TV mulai menurun dan semakin menurun pada usia 10 atahun
• Kemampuan memahami dan mengingat isi pokok acara lebih meningkat
• Kemampuan menangkap isi cerita berkembang dengan baik
• Memiliki kemampuan yang baik untuk menyatukan hubungan antar adegan
• Perhatian pada iklan mulain menurun
• Mengganti saluran TV jika ada iklan muncul
• Kurang percaya pada iklan
• Lebih mampu mengingat dan memahami iklan
• Memahami maksud dan persuasif dari iklan.

MINAT TERHADAP TELEVISI

Dunia anak adalah dunia eksplorasi. Mereka akan menjelalah kesekelilingnya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak-anak menyukai cerita-cerita fantasi dan imajinasi yang melambung. Film yang disukai anak-anak biasanya yang melibatkan anak-anak dalam setiap ceritanya.

Anak menonton televisi karena ingin memenuhi rasa ingin tahunya yang besar; mengisi waktu luang; menghilangkan kebosanan dan untuk belajar sesuatu. Fakta lain yang bisa ditemukan ternyata anak laki-laki lebih senang menonton TV dibandingkan anak perempuan; anak yang pandai cenderung lebih sedikit menonton TV dibandingkan anak yang bodoh; televisi lebih disukai oleh keluarga dari tingkat sosioekonomi yang rendah; menonton televisi lebih diminati oleh anak yang memiliki penyesuaian diri yang buru.

KEGIATAN ALTERNATIF PENGGANTI MENONTON TELEVISI

Memperhatikan dampak-dampak yang bisa muncul akibat interaksi dengan televisi yang tidak efektif maka perlu diberikan kegiatan alternatif lainnya yang menarik seperti:
- Membaca buku, mulai dari bacaan yang sifatnya ringan hingga yang berat. Jika anak ingin memulainya dengan komik carikan komik yang sesuai dengan usianya. Dengan membaca anak memperoleh wawasan yang luas dan juga membantu anak untuk mengembangkan daya imajinasinya.
- Mengikuti kegiatan olahraga, walaupun bukan untuk tujuan prestatif anak dapat memperoleh manfaat tubuhnya menjadi bugar, dan mengembangkan kemampuan sosialisasi.
- Mengikuti kegiatan kesenian agar dapat mengasah kehalusan budinya.
- Bermain dengan teman sebaya di luar rumah, tentunya dengan aturan waktu yang jelas dan juga kelompok teman sebaya yang tepat.
- Mengikuti kegiatan kelompok belajar, kelompok ilmiah sesuai dengan minat anak.
- Mengikuti kegiatan keagamaan, apakah dalam bentuk pembiasaan ritual keagamaan maupun kegiatan yang sifatnya kegiatan sosial.

Dengan memahami sosok anak dan remaja dan juga bentuk interaksinya dengan televisi maka orangtua atau orang dewasa lainnya seperti guru dapat berbuat sesuatu yang lebih berarti sehingga dampak-dampak yang bersifat negatif bisa lebih terkendali, dan anak-anak atau remaja itupun dapat dibekali kemampuan yang akan mereka pergunakan sendiri untuk melindungi dirinya dari dampak televisi yang buruk.

About rahmithasoendjojo

I am a developmental psychologist and lecturer at faculty of early childhood education Jakarta State University. I am a member of national early childhood education specialist team. I like to share my experiences on early childhood care and education subject

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s