MENGAJARKAN PENDIDIKAN MEDIA BAGI ANAK USIA DINI

Standard

Memperhatikan derasnya informasi yang datang baik melalui media elektronik maupun media cetak dalam kehidupan anak-anak kita, sudah tidak waktu lagi bagi kita orang tua maupun orang dewasa yang memiliki perhatian akan tumbuh dan berkembangnya anak untuk mengkaji apakah MELEK MEDIA itu penting atau tidak, perlu atau tidak diberikan kepada anak-anak. Jawabannya sudah pasti harus YA!
Mengapa melek media menjadi penting dan harus dimiliki anak-anak kita? Seperti yang kita ketahui bahwa anak yang melek media maka ia akan mampu untuk mengakses sumber-sumber informasi, menganalisa secara kritis pesan-pesan media, mengevaluasi sumber media dan memproduksi pesan dengan menggunakan berbagai media. Agar anak dapat menjadi melek media maka diterapkan pendidikan media.
PENDIDIKAN MEDIA merupakan sebuah pendekatan yang dapat memberikan pemahaman mengenai sifat/karakter media, mengenal teknik-teknik yang digunakan dalam menyusun dan menyampaikan pesan, memahami bagaimana realitas ditampilkan di media, bagaimana media massa berinteraksi dengan khalayak (hak/peran masyarakat, dll), juga bagaimana media massa diorganisasikan, serta mempelajari bagaimana ‘bahasa’ media disampaikan.
Setelah kita memperoleh tujuan bahwa anak-anak perlu menjadi melek terhadap media, maka pemikiran selanjutnya adalah kapan sebaiknya pendidikan media diberikan kepada anak. Penulis berpendapat bahwa apabila pendidikan media diberikan pada saat anak duduk di bangku sekolah dasar tampaknya sudah sangat terlambat, mengingat anak-anak sudah sangat terekspose dengan media jauh sebelum mereka masuk bangku sekolah dasar. Oleh karena itu penulis menyatakan bahwa pendidikan media harus diberikan pada anak di jenjang usia dini. Sejak pertama kali anak dapat berinteraksi dengan media maka sejak itulah pendidikan media perlu diperkenalkan.
Semakin muda usia anak maka semakin besar peran dari orangtua atau orang dewasa di sekelilingnya untuk memperkenalkan pendidikan media itu. Sebagai ilustrasi ketika seorang bayi diberi akses untuk berhubungan dengan media, maka orangtua memiliki kewajiban untuk memilihkan jenis acara/bentuk informasi yang bisa dikonsumsi anak, kapan dan berapa lama anak dapat mengkonsumsi media tersebut. Apakah seorang anak usia di bawah 2 tahun bisa dibiarkan untuk menonton TV atau VCD sepanjang waktu dia terjaga, atau seorang anak usia 4 tahun dibebaskan untuk bermain games komputer berjam-jam agar dia tidak bermain-main di luar rumah dan lain sebagainya? Ilustrasi ini memberikan kesimpulan bahwa sebelum anak-anak usia dini diperkenalkan dengan pendidikan media maka kunci penting lainnya adalah memberikan pemahaman tersebut pada orangtuanya terlebih dahulu. Kesinambungan ini perlu dijaga agar pendidikan media dapat berhasil pada jenjang anak usia dini.
Bagaimana cara kita dapat mengajarkan pendidikan media kepada anak-anak usia dini? Pertama tentunya kita harus tahu dahulu bagaimana prinsip pembelajaran untuk anak usia dini. Anak usia dini adalah pembelajar yang aktif, situasi apapun, dengan cara apapun anak akan belajar tentang sesuatu. Dengan demikian kita harus bisa menyiapkan lingkungan dan sumber informasi yang benar dan tepat agar dapat anak pelajari.
Panca indera dan sensori merupakan alat yang paling ampuh bagi anak untuk belajar sesuatu, sehingga kita harus bisa memberikan kesempatan pada seluruh panca indera dan sensorinya untuk menjadi alat yang aktif digunakan anak untuk belajar.
Pemberian kesempatan pada anak untuk beraktivitas, melakukan eksprerimen, bereksplorasi dan banyak bertanya akan mendorong anak untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri.
Penyediaan benda-benda kongkrit akan membuat anak lebih mudah untuk berpikir dan yang tidak bisa diabaikan adalah adanya lingkungan yang kondusif karena sumber belajar yang dekat dengan anak dalah lingkungannya sendiri.
Dari prinsip-prinsip pembelajaran yang sudah diuraikan di atas maka selanjutnya kita harus menyiapkan media pembelajaran dan materi pembelajaran yang berkaitan dengan pendidikan media tersebut yang tepat. Setelah materi dan media pembelajaran disiapkan maka dapat dilaksanakan pendidikan media tersebut dan tidak boleh melupakan proses evaluasi dari pelaksanaan pendidikan media agar memperoleh umpan balik atas kegiatan itu.
Di dalam menyiapkan media dan materi pembelajaran memang usaha keras dan juga kreativitas dari guru sangatlah dituntut. Tanpa kesediaan guru untuk mencari sumber informasi yang banyak dan juga kreativitas dalam mempersiapkan materi dan media pembelajaran tentulah kegiatan dalam pendidikan media menjadi tidak bermakna.
Guru harus dapat menurunkan dalam tingkat yang kongkrit apa yang dimaksud dalam pendidikan media tersebut, mencari contoh-contoh yang melingkupinya, memilih topik-topik apa saja yang bisa dan bermakna bagi anak di tingkat usia dini. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut dapat diasumsikan guru telah bisa memberikan fondasi munculnya anak melek media. Dasar menjadi melek media di tingkat usia dini ini harus terus dipupuk di tingkat pendidikan lanjutannya agar menjadi utuh terbangun pada diri anak yang kelak ketika dia dewasa telah dapat menggunakannya dengan baik.
Ayo guru-guru anak usia dini mulai berkreasi di dalam mengimplementasikan pendidikan media bagi anak didiknya. Selamat berkarya!

About rahmithasoendjojo

I am a developmental psychologist and lecturer at faculty of early childhood education Jakarta State University. I am a member of national early childhood education specialist team. I like to share my experiences on early childhood care and education subject

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s