Untuk materinya, silakan klik link berikut: MENU PEMBELAJARAN GENERIK ANAK USIA DINI 09
Perilaku masyarakat dalam pemanfaatan ICT, mendukung proses Pengembangan Masyarakat Global
Judul di atas merupakan judul makalah dari Michael S Sunggiardi Tim Ahli Pustekkom Depdiknas yang dibacakan dalam sebuah seminar nasional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pembangunan Nasional (FORKAPI). Dari makalah tersebut diuraikan mengenai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membuat banyak perubahan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Dengan TIK penyebaran informasi menjadi lebih meluas, dapat diakses dari mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja seperti layaknya jargon iklan minuman coca cola. Berkat kecanggihan teknologi informasi manusia dapat menembus ruang dan waktu tanpa terkendala. Komunikasi yang dibangun juga menjadi lebih baik karena dapat menggunakan berbagai bentuk mulai dari teks, suara, gambar dan lain-lain, sebagai bentuk aplikasi teknologi informasi dan komunikasi.
Dahulu ketika kita dapat berkomunikasi dengan menggunakan telepon rumah sudah merupakan sebuah kemudahan, namun saat ini cara itu sudah sangat tidak memadai, sekarang banyak orang ingin bisa dihubungi dan menghubungi dimanapun ia berada. Sehingga sekarang ini jika seseorang ketinggalan telepon genggamnya ia akan merasakan kebingungan yang amat sangat ketimbang ketinggalan dompetnya.
Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang begitu pesat, membuat produsen perangkat lunak dan perangkat keras berlomba-lomba untuk dapat menyediakan perangkat-perangkat tersebut dengan berbagai variasi model dan harga, sehingga kebutuhan akan informasi yang lengkap, akurat, cepat , tepat, mudah dan murah yang mampu menembut batas ruang dan waktu dapat terpenuhi.
Demikian pula tuntutan akan penguasaan dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi baik secara perseorangan maupun institusi juga semakin nyata dan tinggi. Ketidak mampuan untuk menguasai hal tersebut tentulah akan mempengaruhi eksistensi individu maupun institusi dalam percaturan hidup dunia global.
Kembali pada permasalahan pengaruh TIK terhadap perilaku masyarakat, dapat ditelaah dari adanya perubahan pola komunikasi yang dibangun jika semula komunikasi harus dilakukan secara tatap muka, menggunakan surat yang membutuhkan waktu cukup lama, pemakaian telepon rumah atau kantor yang terbatas pergerakannya beralih pada komunikasi yang lebih cepat tersampaikan, tidak mengenal batas ruang dan waktu. Kita dapat melakukan komunikasi dengan siapa saja yang kita inginkan, dari tempat yang mungkin amat sangat jauh dari tempat kita berada, setiap saat kita inginkan.
Ilustrasi ini sangat relevan dengan apa yang penulis rasakan saat ini, bermula dari email yang penulis terima sekitar satu bulan yang lalu dari saudara yang tinggal di New York yang sudah puluhan tahun tidak bertemu dan bertegur sapa. Sebelum kontak ini terjadi penulis hanya selalu membayangkan bagaimana caranya agar bisa bersilaturahmi dengan saudara tersebut, berkirim surat lewat pos tidak mungkin karena alamatnya tidak jelas, mau telepon dengan telepon rumah pastinya akan mahal sekali. Namun begitu sebuah e-mail ia kirimkan kepada penulis dan seketika itu pula penulis membalasnya, tiba-tiba perasaan bahwa New York itu sangat jauh dari Bogor, dengan perbedaan waktu 12 jam itu hilang sirna. Kamipun dapat berhubungan dengan cepat dan real time. Begitu pula ketika kami mencoba memanfaatkan Skype, kami dapat bertatap muka dan bercakap-cakap secara langsung. Kerinduan selama puluhan tahunpun sirna dengan kecanggihan TIK itu.
Saat-saat inipun demam reuni banyak melanda masyarakat kita, perasaan guyub dengan kelompok-kelompok juga semakin terbangun hal ini tidak lain karena munculnya jejaring social seperti facebook, twitter. Melalui jejaring social itu manusia menjalin ikatan silaturahmi kembali. Mungkin ada yang sampai melakukan kopi darat karena tidak puas hanya lewat dunia maya saja.
Lewat jejaring juga kita dapat menggerakkan orang banyak untuk melakukan sesuatu seperti ketika menghadapi peristiwa “Prita” atau “Balqis” dan masih banyak kasus lainnya. Melalui jejaring social ini masyarakat seakan-akan menjadi memiliki kekuatan untuk membuat sebuah gerakan tertentu baik yang berdampak pada kelompoknya, masyarakat sekitar atau bahkan Negara dan dunia.
Di bidang ekonomi TIK memiliki peran yang strategis dan sangat potensial untuk proses pengambilan keputusan, memperluas pasar dan menciptakan keunggulan kompetitf dan pelayanan terhadap pelanggan maupun supplier (Adrian 2008 dalam Sunggiardi), adanya kecanggihan teknologi telah membuat proses jual beli betul-betul ada diujung jari kita. Dengan hanya duduk di depan computer atau netbook seseorang dapat melakukan transaksi bisnis dengan mudah, ia dapat menjual barang atau membeli barang yang ia inginkan tanpa perlu bersusah payah meninggalkan rumahnya. Dengan demikian cara bisnis dan gaya berbelanjapun mengalami perubahan setelah adanya TIK ini.
Tentunya yang paling menarik bagi penulis adalah ulasan pemakalah tentang TIK dan kaitannya dengan dunia pendidikan. Proses belajar yang melibatkan TIK telah mampu membuat pembelajaran itu menjadi lebih menarik, karena bahan ajar yang dibuat isinya up to date, metode yang dipilih juga menjadi sangat menarik serta penggunaan medianyapun bisa sangat kontekstual. Dengan TIK dunia pendidikanpun menjadi semakin semarak karena adanya distance learning, e-library, e-book. Tentunya hal ini dapat membuat proses pendidikan yang ada menjadi lebih baik, aksesibilitaspun menjadi lebih terbuka.
Namun dari uraian di atas yang sangat memperlihatkan sisi positif dari adanya TIK dalam kehidupan manusia, kitapun tidak boleh lengah dan tenggelam akan adanya dampak negative dari TIK itu sendiri. Penggunaan TIK dapat membuat seseorang menjadi terlalu lama menghabiskan waktunya di depan layar laptop, telepon genggam, televise, enggan atau bahkan lupa untuk berinteraksi secara langsung dengan orang di sekitarnya. Sangking asyiknya atau “merasa” bahwa ia sudah berinteraksi dengan orang lain walau di dunia maya.
Seseorang yang belum memiliki kemampuan untuk mengakses secara benar dan bijaksana TIK, dapat menjadi “korban” dari TIK. Seperti ketidaktahuannya untuk mengakses informasi melalui internet secara benar, efektif dan efisien, dapat menjerumuskan seseorang pada sumber informasi yang tidak benar. Keinginan tahu yang besar akan situs-situs porno katakanlah juga bisa membuat seseorang bisa menjadi kecanduan akan hal itu jika tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Seseorang yang dalam dunia nyata adalah individu yang inferior, maka dengan menggunakan kecanggihan teknologi bisa “menjelma” menjadi individu yang superior dan bisa melakukan cyberbullying pada teman sebayanya.
Orang-orang yang kreatif, cerdas namun tidak berakhlak mulia menggunakan TIK untuk melakukan kejahatan kerah putih (praktek pencucian uang, pencurian pulsa telepon dll), melakukan perdagangan manusia, melakukan kegiatan pornografi dengan anak atau orang dewasa.
Penulis sepakat dengan pemakalah bahwa untuk menghindari atau meminimalisir dampak negative dari TIK dan memaksimalkan dampak positif dari TIK dalam segala aspek kehidupan ini adalah dengan pembelajaran dini di sekolah Sembilan tahun untuk menerapkan ICT, namun penulis lebih senang menyebutkan dengan melakukan pendidikan literasi media sejak dini. Melalui pendidikan literasi media maka seorang individu akan memiliki bekal untuk dapat mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan memproduksi sesuatu melalui pesan media. Kemampuan-kemampuan ini jika sudah terinternalisasikan dalam diri seseorang akan menjadi benteng bagi dirinya dalam menghadapi gempuran-gempuran informasi yang kurang baik dan menjadikan senjata yang sangat efektif ketika ingin menggali informasi-informasi yang positif dan diperlukan bagi kehidupannya.
Artikel di ambil dari :
STRATEGI PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
DAMPAK MEDIA (TERUTAMA TELEVISI) BAGI ANAK
Kita ketahui bahwa anak dapat menirukan karakter dari sebuah acara TV atau film, menyanyikan sebuah iklan, atau memberikan contoh-contoh lain yang mereka pelajari dari media. Yang menyedihkan, contoh-contoh itu termasuk menyebutkan merk minuman beralkohol yang terkenal, menunjukkan gaya yang sexy, berkelahi pura-pura. Mudah sekali bagi anak-anak karena mereka tinggal memasukkan video ke dalam video player, buka majalah, klik on pda Website, atau menonton TV untuk mendapatkan pengalaman dari semua pesan-pesan yang muncul, dan ini adalah kenyataan!
Media menawarkan hiburan, budaya, erita, olah raga dan pendidikan. Mereka menjadi bagian yang penting dalam kehidupan dan banyak yang dapat diajarkan. Masalahnya banyak yang diajarkan itu mungkin sesuatu yang tidak ingin dipelajari oleh anak kita.
Kadang-kadang kita dapat melihat dampak dari sebuah media secara langsung, seperti ketika seorang anak menonton jagoannya berkelahi dan kemudian menirukan ketika sedang bermain. Tetapi kebanyakan dampak itu datang secara tidak langsung atau tidak nyata. Hal itu terjadi secara perlahan, ketika anak mendengar dan melihat pesan-pesan tertentu berulang kali, seperti:
• Berkelahi dan kekerasan lainnya merupakan jalan untuk mengatasi konflik
• Rokok dan alkohol diperlihatkan sebagai sesuatu yang keren dan menarik perhatian, bukan sesuatu yang tidak sehat dan mematikan
• Perilaku seksual tidak mempunyai akibat yang buruk, seperti tertular penyakit atau kehamilan yang tidak diinginkan
Apapun bentuk dari sebuah media (iklan, film, games komputer, video musik), pesan yang diberikan bisa bersifat baik atau buruk bagi anak-anak. Seperti kita membatasi beberapa jenis makanan yang tidak sehat dalam diet anak kita, maka kita juga harus bisa membatasi pesan-pesan yang diterima dari suatu media (media diet).
Orangtua perlu membuat batasan dan secara aktif terlihat dalam acara TV yang ditonton, permainan komputer, masalah dan bentuk media lain yang digunakan oleh anak. Cara ini merupakan salah satu langkah yang dapat membantu menjadikan media memiliki peran yang positif dalam kehidupan seorang anak. Karena media itu banyak ada disekitar kita dan tidak dapat selalu dihindarkan, maka salah satu cara penyaringannya adalah menumbuhkan keterampilan akan untuk mempertanyakan, menganalisa dan mengevaluasi pesan-pesan media yang didapatkannya dan itu disebut dengan Media Literasi.
Fakta tentang pola menonton TV pada anak berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh YKAI pada tahun 2002 ditemukan bahwa:
– Jumlah jam menonton TV pada anak semakin hari semakin meningkat mencapai jumlah 30 – 35 jam perminggu dan itu sudah lebih banyak dari jumlah waktu yang mereka habiskan di sekolah untuk belajar.
– Jenis tontonan yang disukai anak ternyata lebih banyak pada acara-acara yang sebetulnya tidak ditujukan untuk mereka.
– Saat menonton yang sering dilakukan anak merupakan saat-saat yang kurang tepat.
Hasil penelitian yang lain tentang dampak TV pada anak juga menunjukkan bahwa:
– TV mempengaruhi cara anak bermain, mempersepsi dunia, bagaimana anak bertingkah. Anak yang senang menghabiskan waktunya untuk menonton televisi seringkali mengalami kesulitan untuk menikmati kegiatan bermain di luar ruang. Pajanan televisi berupa acara kriminalitas yang berlebihan juga dapat membuat anak memiliki persepsi bahwa dunia sekelilingnya itu adalah tempat yang tidak aman.
– Kekerasan di TV mempengaruhi sikap dan perilaku anak dan remaja, mereka dapat melakukan kekerasan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
– Namun selain itu juga bisa memberikan dampak positif, seperti melalui pesan-pesan prososial, menambah ilmu pengetahuan.
– Semakin lama waktu yang dipergunakan untuk menonton maka peluang bagi dampaknya itu berpengaruh juga semakin besar.
– Semakin sering dibicarakan dan dipikirkan apa yang dilihat anak di TV, semakin sedikit dampak yang muncul.
– Mempengaruhi kesehatan anak, seperti kegemukan, ketidak bugaran atau perubahan postur tulang
Dari interaksi yang intensif anak dengan televisi dampak jangka pendek yang dapat langsung dirasakan anak adalah adanya perubahan waktu yang dipergunakan oleh anak untuk menonton TV dan melakukan kegiatan lainyya.
Sedangkan untuk dampak jangka panjangnya adalah adanya gangguan dari struktur otak anak, yang simptomnya baru ditemui pada anak-anak di usia masuk sekolah, mereka menjadi mengalami kesulitan berkonsentrasi, kemampuan atensi yang rendah dll.
Kebiasaan mengudap makanan selama menonton televisi apabila tidak dikendalikan bisa menimbulkan kegemukan. Posisi duduk yang kurang nyaman ketika sedang menonton televisi dalam waktu yang cukup lama dapat mempengaruhi bentuk postur tubuh anak.
Tontonan yang menggambarkan gaya hidup hedonisme, sikap perlawanan terhadap figur otoritas, peran-peran stereotipi dari pria dan wanita yang sempit juga mempengaruhi anak di dalam kehidupannya sehari-hari.
MEKANISME DAMPAK TELEVISI PADA ANAK:
Anak yang sering mendapatkan eksposure berbagai ragam acara televisi maka cara berpikirnya, cara bersikap, cara bertingkahlaku dll akan terpengaruh, pengaruh itu bisa berkaitan pada fisiknya, gaya hidupnya, sikap, dan nilai-nilai yang dianutnya. Namun pengaruh itu sangat ditentukan oleh usia, jenis kelamin, lingkungan sekitar, tingkat kecerdasannya, tipe kepribadiannya dan juga waktu yang digunakannya.
PERKEMBANGAN ANAK DALAM MENONTON TELEVISI
Dalam menonton televisi anak yang berusia 6 – 8 tahun mempunyai cara berpikir dan pemahaman yang berbeda dengan anak usia 9 – 14, hal ini dapat terlihat dari:
• Perhatian terhadap TV yang semakin meningkat
• Bantuan secara audio membuat anak semakin paham tentang isi acara
• Pemahaman anak terhadap isi acara tertentu meningkat
• Kesadaran akan hubungan antar gambar meningkat
• Menyukai program beralur dan berlanjut
• Pemahaman akan meningkat jika diikuti oleh gambar-gamber yang penting dan menarik
• Perhatian terhadap iklan masih tinggi
• Mulai bisa membedakan antara iklan dan acara TV
• Masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap iklan.
Pada anak usia 9 – 14 tahun cara berpikir dan pemahamannya dalam menonton TV adalah:
• Minat terhadap TV mulai menurun dan semakin menurun pada usia 10 atahun
• Kemampuan memahami dan mengingat isi pokok acara lebih meningkat
• Kemampuan menangkap isi cerita berkembang dengan baik
• Memiliki kemampuan yang baik untuk menyatukan hubungan antar adegan
• Perhatian pada iklan mulain menurun
• Mengganti saluran TV jika ada iklan muncul
• Kurang percaya pada iklan
• Lebih mampu mengingat dan memahami iklan
• Memahami maksud dan persuasif dari iklan.
MINAT TERHADAP TELEVISI
Dunia anak adalah dunia eksplorasi. Mereka akan menjelalah kesekelilingnya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak-anak menyukai cerita-cerita fantasi dan imajinasi yang melambung. Film yang disukai anak-anak biasanya yang melibatkan anak-anak dalam setiap ceritanya.
Anak menonton televisi karena ingin memenuhi rasa ingin tahunya yang besar; mengisi waktu luang; menghilangkan kebosanan dan untuk belajar sesuatu. Fakta lain yang bisa ditemukan ternyata anak laki-laki lebih senang menonton TV dibandingkan anak perempuan; anak yang pandai cenderung lebih sedikit menonton TV dibandingkan anak yang bodoh; televisi lebih disukai oleh keluarga dari tingkat sosioekonomi yang rendah; menonton televisi lebih diminati oleh anak yang memiliki penyesuaian diri yang buru.
KEGIATAN ALTERNATIF PENGGANTI MENONTON TELEVISI
Memperhatikan dampak-dampak yang bisa muncul akibat interaksi dengan televisi yang tidak efektif maka perlu diberikan kegiatan alternatif lainnya yang menarik seperti:
– Membaca buku, mulai dari bacaan yang sifatnya ringan hingga yang berat. Jika anak ingin memulainya dengan komik carikan komik yang sesuai dengan usianya. Dengan membaca anak memperoleh wawasan yang luas dan juga membantu anak untuk mengembangkan daya imajinasinya.
– Mengikuti kegiatan olahraga, walaupun bukan untuk tujuan prestatif anak dapat memperoleh manfaat tubuhnya menjadi bugar, dan mengembangkan kemampuan sosialisasi.
– Mengikuti kegiatan kesenian agar dapat mengasah kehalusan budinya.
– Bermain dengan teman sebaya di luar rumah, tentunya dengan aturan waktu yang jelas dan juga kelompok teman sebaya yang tepat.
– Mengikuti kegiatan kelompok belajar, kelompok ilmiah sesuai dengan minat anak.
– Mengikuti kegiatan keagamaan, apakah dalam bentuk pembiasaan ritual keagamaan maupun kegiatan yang sifatnya kegiatan sosial.
Dengan memahami sosok anak dan remaja dan juga bentuk interaksinya dengan televisi maka orangtua atau orang dewasa lainnya seperti guru dapat berbuat sesuatu yang lebih berarti sehingga dampak-dampak yang bersifat negatif bisa lebih terkendali, dan anak-anak atau remaja itupun dapat dibekali kemampuan yang akan mereka pergunakan sendiri untuk melindungi dirinya dari dampak televisi yang buruk.
MENGAJARKAN PENDIDIKAN MEDIA BAGI ANAK USIA DINI
Memperhatikan derasnya informasi yang datang baik melalui media elektronik maupun media cetak dalam kehidupan anak-anak kita, sudah tidak waktu lagi bagi kita orang tua maupun orang dewasa yang memiliki perhatian akan tumbuh dan berkembangnya anak untuk mengkaji apakah MELEK MEDIA itu penting atau tidak, perlu atau tidak diberikan kepada anak-anak. Jawabannya sudah pasti harus YA!
Mengapa melek media menjadi penting dan harus dimiliki anak-anak kita? Seperti yang kita ketahui bahwa anak yang melek media maka ia akan mampu untuk mengakses sumber-sumber informasi, menganalisa secara kritis pesan-pesan media, mengevaluasi sumber media dan memproduksi pesan dengan menggunakan berbagai media. Agar anak dapat menjadi melek media maka diterapkan pendidikan media.
PENDIDIKAN MEDIA merupakan sebuah pendekatan yang dapat memberikan pemahaman mengenai sifat/karakter media, mengenal teknik-teknik yang digunakan dalam menyusun dan menyampaikan pesan, memahami bagaimana realitas ditampilkan di media, bagaimana media massa berinteraksi dengan khalayak (hak/peran masyarakat, dll), juga bagaimana media massa diorganisasikan, serta mempelajari bagaimana ‘bahasa’ media disampaikan.
Setelah kita memperoleh tujuan bahwa anak-anak perlu menjadi melek terhadap media, maka pemikiran selanjutnya adalah kapan sebaiknya pendidikan media diberikan kepada anak. Penulis berpendapat bahwa apabila pendidikan media diberikan pada saat anak duduk di bangku sekolah dasar tampaknya sudah sangat terlambat, mengingat anak-anak sudah sangat terekspose dengan media jauh sebelum mereka masuk bangku sekolah dasar. Oleh karena itu penulis menyatakan bahwa pendidikan media harus diberikan pada anak di jenjang usia dini. Sejak pertama kali anak dapat berinteraksi dengan media maka sejak itulah pendidikan media perlu diperkenalkan.
Semakin muda usia anak maka semakin besar peran dari orangtua atau orang dewasa di sekelilingnya untuk memperkenalkan pendidikan media itu. Sebagai ilustrasi ketika seorang bayi diberi akses untuk berhubungan dengan media, maka orangtua memiliki kewajiban untuk memilihkan jenis acara/bentuk informasi yang bisa dikonsumsi anak, kapan dan berapa lama anak dapat mengkonsumsi media tersebut. Apakah seorang anak usia di bawah 2 tahun bisa dibiarkan untuk menonton TV atau VCD sepanjang waktu dia terjaga, atau seorang anak usia 4 tahun dibebaskan untuk bermain games komputer berjam-jam agar dia tidak bermain-main di luar rumah dan lain sebagainya? Ilustrasi ini memberikan kesimpulan bahwa sebelum anak-anak usia dini diperkenalkan dengan pendidikan media maka kunci penting lainnya adalah memberikan pemahaman tersebut pada orangtuanya terlebih dahulu. Kesinambungan ini perlu dijaga agar pendidikan media dapat berhasil pada jenjang anak usia dini.
Bagaimana cara kita dapat mengajarkan pendidikan media kepada anak-anak usia dini? Pertama tentunya kita harus tahu dahulu bagaimana prinsip pembelajaran untuk anak usia dini. Anak usia dini adalah pembelajar yang aktif, situasi apapun, dengan cara apapun anak akan belajar tentang sesuatu. Dengan demikian kita harus bisa menyiapkan lingkungan dan sumber informasi yang benar dan tepat agar dapat anak pelajari.
Panca indera dan sensori merupakan alat yang paling ampuh bagi anak untuk belajar sesuatu, sehingga kita harus bisa memberikan kesempatan pada seluruh panca indera dan sensorinya untuk menjadi alat yang aktif digunakan anak untuk belajar.
Pemberian kesempatan pada anak untuk beraktivitas, melakukan eksprerimen, bereksplorasi dan banyak bertanya akan mendorong anak untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri.
Penyediaan benda-benda kongkrit akan membuat anak lebih mudah untuk berpikir dan yang tidak bisa diabaikan adalah adanya lingkungan yang kondusif karena sumber belajar yang dekat dengan anak dalah lingkungannya sendiri.
Dari prinsip-prinsip pembelajaran yang sudah diuraikan di atas maka selanjutnya kita harus menyiapkan media pembelajaran dan materi pembelajaran yang berkaitan dengan pendidikan media tersebut yang tepat. Setelah materi dan media pembelajaran disiapkan maka dapat dilaksanakan pendidikan media tersebut dan tidak boleh melupakan proses evaluasi dari pelaksanaan pendidikan media agar memperoleh umpan balik atas kegiatan itu.
Di dalam menyiapkan media dan materi pembelajaran memang usaha keras dan juga kreativitas dari guru sangatlah dituntut. Tanpa kesediaan guru untuk mencari sumber informasi yang banyak dan juga kreativitas dalam mempersiapkan materi dan media pembelajaran tentulah kegiatan dalam pendidikan media menjadi tidak bermakna.
Guru harus dapat menurunkan dalam tingkat yang kongkrit apa yang dimaksud dalam pendidikan media tersebut, mencari contoh-contoh yang melingkupinya, memilih topik-topik apa saja yang bisa dan bermakna bagi anak di tingkat usia dini. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut dapat diasumsikan guru telah bisa memberikan fondasi munculnya anak melek media. Dasar menjadi melek media di tingkat usia dini ini harus terus dipupuk di tingkat pendidikan lanjutannya agar menjadi utuh terbangun pada diri anak yang kelak ketika dia dewasa telah dapat menggunakannya dengan baik.
Ayo guru-guru anak usia dini mulai berkreasi di dalam mengimplementasikan pendidikan media bagi anak didiknya. Selamat berkarya!
